Perisai Lima Waktu




Malam sudah larut. Di sebuah kamar sempit dengan dinding kusam, Raka duduk di lantai, bersandar pada ranjang besinya yang berderit setiap kali ia bergerak. Kamar itu hampir kosong, hanya ada meja kecil di pojokan dengan segelas air dan beberapa lembar kertas yang kusut.  


Tangannya gemetar saat menggenggam selembar kertas lusuh. Itu adalah tagihan listrik yang sudah melewati batas pembayaran. Matanya membaca angka yang tertulis di sana, tapi pikirannya sudah kosong.  


"Hitung-hitungannya terpampang jelas..."


Ia telah menghitung semuanya. Uang yang tersisa tidak akan cukup untuk membayar tagihan itu, apalagi untuk makan beberapa hari ke depan. Ia sudah mencoba bekerja serabutan, menawarkan jasanya ke sana-sini, bahkan menjual beberapa barang berharganya. Tapi tetap saja, kehidupan seakan terus menekannya hingga ke titik paling rendah.  


Perutnya berbunyi, mengingatkannya bahwa ia belum makan sejak pagi. Namun, rasa lapar itu bukan lagi sesuatu yang baru.  


Ia menghela napas berat, lalu bangkit dan berjalan menuju meja kecil di sudut kamar. Tangannya meraih segelas air yang sudah dingin, lalu meneguknya perlahan, berharap bisa sedikit mengganjal perutnya. Saat itu, pikirannya dipenuhi suara-suara yang tak pernah ia undang.  


"Setan berbisik nyaring, terasa suram semua cahaya..."


"Apa gunanya bertahan?" suara itu bergema di dalam kepalanya. "Toh, dunia tidak peduli padamu. Tidak ada yang akan merindukanmu jika kau menyerah sekarang."  


Raka menggertakkan giginya. Tangannya mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin menolak suara itu, ingin melawan, tapi semakin ia berusaha, semakin bisikan itu terdengar jelas.  


Matanya mulai memanas. Dadanya terasa sesak. Ia jatuh terduduk di lantai, menundukkan kepalanya di antara kedua lutut.  


"Hati dibuat gelisah, pikiran gundah gulana..."


Air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Ia ingin berteriak, ingin melampiaskan semuanya, tapi suara itu tercekat di tenggorokannya.  


Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa suara adzan dari masjid kecil di ujung gang. Suara itu lirih, nyaris tenggelam oleh suara hujan yang mulai turun.  


Tapi bagi Raka, suara itu seakan datang dari tempat yang jauh, dari seseorang yang sudah lama ia rindukan.  


"Ketenangan hari adalah senjata..."  


Ia mengangkat wajahnya, mengusap air mata dengan punggung tangannya. Sejak kecil, ibunya selalu mengingatkannya bahwa hidup memang penuh ujian. Ia masih ingat bagaimana ibunya berkata, "Ketika dunia terasa menghimpitmu, carilah ketenangan dalam sujud."  


Perlahan, Raka bangkit. Langkahnya berat saat ia berjalan ke kamar mandi kecil, membiarkan air dingin menyentuh wajahnya. Setiap tetesan air yang jatuh terasa seperti membasuh sebagian dari beban yang selama ini ia pikul.  


Dengan tubuh yang masih gemetar, ia berdiri di atas sajadah lusuh yang dulu milik ibunya. Lampu kamar yang remang-remang membuat bayangannya tampak bergetar di dinding. Ia mengangkat kedua tangannya, menarik napas dalam-dalam, lalu memulai doa yang selama ini terasa jauh darinya.  


Dalam sujud terakhir, air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini bukan karena keputusasaan, melainkan karena kelegaan.  


"Lima waktu adalah perisainya, dan dunia sebagai arena... dan setan sebagai musuhnya."


Saat ia mengucapkan salam terakhir, sesuatu dalam dadanya terasa lebih ringan. Masalahnya memang belum selesai, tapi ia tidak lagi merasa sendirian.  


Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidur dengan damai.  


Dan esok, meskipun dunia masih penuh dengan tantangan, ia siap menghadapinya dengan hati yang lebih kuat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama