Pagi datang dengan sinar matahari yang menerobos jendela kecil di sudut kamar Raka. Udara masih terasa dingin setelah hujan semalam, namun bagi Raka, ada kehangatan yang ia rasakan dari dalam dirinya sendiri.
Ia terbangun tanpa rasa sesak di dadanya seperti hari-hari sebelumnya. Matanya masih sembab karena menangis semalam, tapi hatinya terasa lebih ringan.
Dari luar, terdengar suara ibu-ibu berbincang di gang kecil. Suara langkah anak-anak yang berlarian menuju sekolah mengingatkannya akan masa kecilnya. Ia tersenyum kecil, lalu menarik napas panjang sebelum bangkit dari tempat tidur.
Hari ini mungkin masih sama. Ia masih tidak punya cukup uang, masih belum tahu bagaimana membayar tagihan-tagihannya, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ada semangat yang mulai tumbuh kembali.
“Dunia sebagai arena… dan setan sebagai musuhnya.”
Raka berjalan menuju cermin kecil yang tergantung di dinding, menatap wajahnya sendiri. Mata itu masih menyimpan kelelahan, tapi juga keteguhan.
Tanpa pikir panjang, ia mengambil ponselnya yang hampir mati karena baterainya tinggal sedikit. Ia membuka daftar kontak, mencari nama seseorang yang mungkin bisa membantunya mendapatkan pekerjaan. Sudah lama ia menunda untuk menghubungi beberapa kenalannya karena malu. Tapi sekarang, ia tahu ia harus bergerak.
Tangannya ragu sejenak, sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
"Halo, Mas Raka?" suara di seberang terdengar ramah. Itu adalah Fadil, teman lamanya yang bekerja di sebuah studio musik kecil.
"Fadil, apa kabar?" suara Raka sedikit bergetar, campuran antara harapan dan keraguan.
"Baik, Mas. Wah, udah lama banget gak dengar kabar. Ada apa?"
Raka menghela napas sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
"Aku lagi cari kerja, apapun yang bisa kulakukan. Aku butuh uang, bro, dan jujur aja, aku gak tahu harus mulai dari mana."
Ada jeda sejenak sebelum Fadil menjawab.
"Sebenarnya studionya lagi butuh orang buat bantu-bantu rekaman dan editing. Memang gajinya gak seberapa, tapi kalau Mas Raka mau, bisa datang aja hari ini buat ngobrol langsung?"
Raka hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Seperti ada secercah cahaya di tengah gelap yang selama ini menyelimutinya.
"Serius, Dil?" suaranya sedikit bergetar.
"Serius lah. Datang aja siang ini, kita ngobrol."
Raka menutup telepon dengan senyum tipis. Ia tidak tahu apakah ini akan menjadi solusi dari semua masalahnya, tapi setidaknya, ini adalah sebuah langkah.
Dengan cepat, ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Air dingin membasahi tubuhnya, tapi tidak lagi terasa menyiksa. Hari ini ia akan melangkah, tidak lagi membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan yang hampir membuatnya menyerah.
Karena ia tahu, dunia ini memang arena pertarungan. Tapi sekarang, ia punya perisainya.
Ia siap menghadapi segalanya.
